Berita Nasional

Senin, 22 Jan 2018, 07:02 WITA

Pemerintah Daerah Diminta Sosialisasikan Progress Jembatan Bulan

Humas - KaltaraProv

 MULAI 2018, peluang untuk melanjutkan percepatan realisasi pembangunan Jembatan Bulungan-Tarakan (Bulan) dimanfaatkan maksimal oleh Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr H Irianto Lambrie. Salah satunya, mengupayakan masuknya Jembatan Bulan kedalam Blue Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Blue Book, merupakan buku daftar pinjaman dan hibah luar negeri yang diterbitkan Bappenas. Adapun Dokumen Daftar Rencana Pinjaman/HibahLuar Negeri (DRPLN) / Blue Book yang masih berlaku adalah DRPHLN-Jangka Menengah 2015-2019 Buku I dan Buku II. Dimana, sesuai dengan Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Nomor : Per. 005/M.PPN/06/2006 tentang Tata Cara Perencanaan dan Pengajuan Usulan Serta Penilalan Kegiatan yang Dibiayai Dari Pinjaman Dan Atau Hibah Luar Negeri, disebutkan bahwa menteri menyusun Daftar Rencana Prioritas Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (DRPPHLN) dengan berpedoman pada DRPHLN-JM dan memerhatikan Rencana Kebutuhan Pinjaman Luar Negeri (RKPLN).

Lalu, menteri menetapkan DRPPHLN paling lambat bulan November setiap tahun. Dimana, DRPPHLN ini berisi rencana kegiatan kementerian negara atau lembaga, pemerintah daerah, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang layak dibiayai dari pinjaman dan atau hibah luar negeri yang tercantum dalam DRPHLN-JM dan telah memiliki indikasi sumber pendanaan pinjaman dan atau hibah luar negeri.

Untuk masuk dalam Blue Book, detail desain Jembatan Bulan harus ada. Berdasarkan hasil koordinasi Gubernur dengan pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), penyusunan detail desain Jembatan Bulan membutuhkan anggaran sekitar Rp 60 hingga 100 miliar. “Kalau progres saat ini, informasinya studi kelayakan sudah dilakukan. Sementara melalui anggaran daerah dan pusat, sudah dilakukan pembangunan jalan pendekat dari sisi Bulungan dan Tarakan,” ulas Gubernur.

Mengingat prosesnya yang cukup panjang, pemerintah daerah maupun provinsi diharapkan dapat mensosialisasikan progres dan upaya percepatan realisasi proyek ini kepada masyarakat. Lantaran, Jembatan Bulan merupakan salah satu mega proyek yang paling dinanti realisasinya selama ini. “Sekali lagi, prosesnya panjang. Bisa saja, belum dapat terealisasi hingga akhir masa jabatan saya. Minimal, sudah ada langkah riil untuk merintisnya,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) Provinsi Kaltara Sudjadi mengungkapkan, tahun ini sudah dimulai pembangunan jalan pendekat dari sisi Tarakan. “Tepatnya di wilayah Swaran. Realisasi Jembatan Bulan kita mulai bertahap,” ucapnya.

Pembangunan jembatan penghubung Pulau Tarakan dan daratan Kalimantan ini diestimasi memiliki panjang 56 kilometer, yang terdiri dari 50 kilometer panjang jalan, dan 6 buah jembatan yang memiliki panjang masing-masing 1 kilometer. “Kalau yang dari sisi Bulungan, jalan pendekatnya dibangun dari Desa Ardimulyo, Tanjung Palas Utara,” ungkap Sudjadi. Dari sisi Bulungan di Ardimulyo, targetnya akan terhubung dengan Pulau Tarakan melalui Pulau Sadau. Adapun estimasi kebutuhan total anggaran untuk pembangunan Jembatan Bulan sekitar Rp 10 triliun.

 

 

CRBC AKAN DATANGKAN TIM TEKNIS

Menindaklanjuti arahan Gubernur, kemarin (18/1) digelar pertemuan antara tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) Provinsi Kaltara serta CRBC. “Tim CRBC melaporkan progress langkah-langkah yang sudah dilakukan selama sekitar 1,5 tahun ini. CRBC juga sudah siap membantu ke hal-hal teknis. Seperti melakukan penyusunan desain jembatan, pengkajian kondisi tanah, serta mengkaji ulang data-data yang sudah ada,” kata Kepala DPUPR-Perkim Kaltara Suheriyatna.

Sementara berdasarkan pemaparan Tim DPUPR-Perkim Kaltara, CRBC juga berjanji untuk mendatangkan tim teknis khusus untuk melakukan survey lokasi dan mengkaji desain yang sudah ada. “Rencananya, tim teknis ini akan datang ke Kaltara. Waktunya diperkirakan setelah Tahun Baru China, atau sekitar akhir Februari atau awal Maret tahun ini,” urai Suheriyatna.

CRBC juga menyampaikan invitasi dan akan memfasilitasi tim dari Kementerian PUPR dan DPUPR-Perkim Kaltara untuk melakukan studi banding di China. Undangan resminya bakal disampaikan dalam waktu dekat. “Mengingat proses kerja sama pembangunan Jembatan Bulan ini butuh waktu yang lama, CRBC akan mendorong supaya proses teknisnya tetap berjalan bersamaan dengan proses yang sedang berjalan di Kedubes (Kedutaan Besar) China dan kementerian terkait di Indonesia,” tuntasnya.(humas)